Wednesday, 26 August 2015

Yang Terlewatkan Sekian Lama :)

I'M BACK!!

Amanda Zevannya is back on Blogspot.
Maaf, maaf, maaf banget baru ngepost cerita baru, karena I'm getting a bit busier this year (YEAY!), and I almost forgot that I owe you guys one more story from Japan. Now I'm here to tell the story.

Here we go!

This story is about my shooting diary in Central Japan. So, last year in June, KNT Team went to Central Japan and Chugoku region to finish the last 3 episodes. Jadi kali ini kami terbang ke Osaka, dan langsung lanjut perjalanan ke Hiroshima! Does the word Hiroshima ring a bell? I think yes. Kota Hiroshima emang jadi sebuah nama yang cukup berperan penting dalam sejarah Indonesia. Tapi aku nggak tertarik untuk ngebahas ini hahaha karena ini adalah catatan perjalanan aku, bukan buku sejarah :))
Sampe di Hiroshima, ehm, yes, belom tidur, langsung cabut ke Miyajima. Di sini kami mau shooting Itsukushima Jinja. Kuil ini tuh terkenal banget dan masuk dalam list World Heritage UNESCO, karena konon katanya, kuil ini ada di pulau super suci, terisolir, dan keramat gitu. Pokoknya tempatnya di pulau di tengah laut, gak terjamah manusia, dan punya gerbang yang unik. Jadi gerbangnya itu kalo pas air laut lagi pasang, Kaki gerbangnya nggak keliatan sehingga seolah-olah ngapung di atas air. Kece berat sih emang. Wah, aku sih udah ngebayangin kalo aura spiritual di kuil ini kenceng banget ya. Sepi hening gimanaaaa gitu kan. I had prepared myself to be calm, quiet, and ready to embrace the sacredness of this place. Begitu sampai di komplek kuilnya, JRENG... RAME AMAT, COY. Asli, yah, itu banyak banget turisnya. Ya dari negara Barat, dari negara Asia, dan rame juga sama turis lokal. Terus di antara gerbangnya bisa naik kano, bisa foto-foto. :)
Tuh, kan, ada yang lagi naik kano :)) 
Tapi musti diakui kalo kuil ini cantik banget, semua struktur bangunannya itu dibangun dengan perhitungan yang presisi, supaya bisa kuat nahan gelombang pasang air laut, dan pastinya penuh nilai historis dan spiritual. Kita masih bisa liat pendeta-pendeta Shinto ada di sini.
Ini salah satu bagian kuilnya.

Terus di sepanjang jalan menuju kuil, ada banyak rusa jinak berkeliaran gitu. Kayaknya emang udah biasa banget liat manusia.
Bahkan rusa nya bisa diajak selfie :))

Terus masih di Hiroshima, we went to Atomic Bomb Dome, and Peace Memorial Museum. Nah, lokasi ini tuh persis di bawah ground zero dijatuhkannya bom atom atas kota Hiroshima pada akhir Perang Dunia II, 70 tahun lalu.
Ikimasshou!
Wah, gila sih. Jadi, Atomic Bomb Dome itu sebuah bangunan yang gak hancur runtuh waktu peristiwa bom atom. Masih utuh dan masih dibiarkan sedemikan rupa.
Udah pemugaran, sih. Tapi ini bangunan aslinya.
Gak jauh dari situ, dibangun museum peringatan gitu. Intinya sih mereka menyuarakan tentang perdamaian dunia, dan ini jadi cermin dan pengingat supaya gak ada lagi peristiwa penggunaan bom atom. At its lobby, I was touched by a writing on a big tablet from His Holiness Pope John Paul II, nih baca sendiri aja deh.
Bear in mind, people.

Di museum ini ada banyak sisa-sisa korban bom yang ditemukan gitu. Please don't proceed reading or simply skip this part, if you can't stand disturbing details.
Oke, jadi ada sisa kuku, serpihan kulit yang udah rusak atau terbakar, sejumput rambut, pecahan dan patahan tulang manusia, surat, dompet, baju yang udah rusak dan kena noda darah, koin, dll. Banyak banget, dan semua cerita dibalik ini bener-bener bikin hati hancur. Ada juga cerita dari orang yang harus menanggung luka bakar di badannya seumur hidup, kena kanker kulit, kanker darah, dll (yang baru terdeteksi 10-20 tahun kemudian), ada yang lumpuh karena harus amputasi, ada cerita dari para keluarga korban juga. Terus ada juga replika ukuran sebenarnya dari bom Little Boy. Sumpah, kayanya cuma segede guling (nggak deng, lebih gede), tapi dampaknyaaa... T,T
Aduh, bener-bener deh. Please, world, stop using nuclear and its thing. And please stop war now. Di ujung trip museum ini, aku ikut isi petisi untuk stop penggunaan nuklir terhadap living kind. B)
Oh, kalo kalian mau ke Hiroshima, nggak usah kuatir masih ada dampak radiasi nuklir ya, karena setiap sekian tahun (sorry aku lupa), air, tanah, dan udara Hiroshima di tes, dan hasilnya udah bersih kok. :)

Terus aku juga makan Okonomiyaki khas Hiroshima, yaitu pake scallop! Unexpectedly endang bambaaaanggg! Aku tuh nggak doyan kerang dan teman-temannya, tapi begitu nyobain... wuih! Nagihhh.. Gawat ini enaknya gawat. nyam!
Sabar kali, Neng. Laper amat kayanya? :))

Next, shooting di Korakoen Okayama, terus besokannya shooting di Kurashiki Old Town. Ter...nya...taaa.... Kurashiki ini adalah salah satu lokasi shooting Rurouni Kenshin Live Action dan gue baru tau beberapa bulan setelahnya huaaaakaubetekenapatelattaunyakalogakkanudahnorakfotodisanasiniiii T,T Dari sini, we were heading to a grape picking farm but we made a brief stop at a glass artwork house to try making an artwork (yang ternyata bikin kaca itu cuma jarak 2 meter dari kompor raksasa yang panasnya kayak masuk dalem microwave yatuhan terus musti ditiup-tiup sekuat tenaga auk ah pokoknya panas bet!).

Anyway, udah pada tau tentang Onomichi? Jadi dimulai dari kota Onomichi, dibangun jalan sepanjang 60km diatas laut, lewatin pulau-pulau kecil, sampe ke pulau Shikoku. Nah, yang serunya adalah jalanan ini suka dipake buat pesepeda. Dan tentunya kita harus nyobain, lah!
Jagoaaaaann :))

Clueless banget sih di Onomichi, karena pak produser tertjintah juga belom pernah kesini. But it's a small world after all! Malemnya, lagi asik wifi-an di lobby hotel, ehh ketemu sama Koyama-san. Beliau ini adalah orang perfilman Jepang, yang nemenin kita keliling Kumamoto sebelumnya. Orangnya baik dan gaul abis, walaupun bahasa Inggrisnya terbata-bata, tapi beliau berusaha buat provide semua kebutuhan kita dan berusaha mingle sama kita. Bingung dongg, ngapainnn coba ada di Onomichi. Ternyata Koyama-san ini lagi touring sendirian dari Kumamoto ke Onomichi, NAIK MOTOR BMW (yeaa motor gede sih), dan berniat pulang besok paginya. But he rearranged his departure schedule just to accompany us cycling in Onomichi. Baik banget, kaaaannn! Selesai shooting di jalan tol atas laut pake sepeda, pulang ke hotel aku nebeng di motornya Koyama-san, dan sepedaku dibawa sama temen-temen kru! WOOHOOOOO.. It was an unplanned unforgettable experience, indeed :)) We rode in a motorcycle that is running in the speed of 100km/h, and I took a selfie. Okay, JANGAN DITIRU. INI BAHAYA BANGET, iPhone ku hampir lepas dari tangan T,T God still loved me anyway huhuhu
JANGAN DITIRU!
Ini diaaaa Koyama-san! Otsukareeeee

But before heading back to the hotel, we made a lunch break in a rest area nearby. I met a woman who was going from the South tip to the North tip of Japan. Kece berat, ya. Perempuan ini juga naik motor gede gitu. She said that she finds comfort in riding her bike, all alone, seeing the beauty of her country.  Wow!
Perlengkapan 'perang'-nya.

Sayang sekaliii aku lupa tanya namanyaaa >,<

Kemudiaaaaan kami pindah ke prefektur Mie. Serius deh, how many of you guys know Mie? The only Mie I knew was makanan enak dari tepung berwarna kekuningan berbentuk lembaran tipis panjang yang nikmat jika dicampur kaldu dan potongan ayam dan babi merah atau digoreng dengan kecap dan seafood. Entah aku yang kurang gaul, atau emang orang Indonesia yang pernah ke Mie bisa diitung jari pake satu tangan :)) Tapi ternyata, aku yang kurang gaul, karena ada lumayan banyak mahasiswa Indonesia di Mie. Bacanya Mi-e, ya. Jangan Mi. Ntar yang ada lo malah laper terus buka app Gojek minta delivery makanan terus berenti baca blog aku. (Bukan, ini bukan post promosi berbayar Gojek). Destinasi pertama kami di Mie adalah ke kota Iga. BUKAAAANN, bukan iga sapi yang digoreng garing disantap dengan sambel ulek. Kalo itu namanya Iga Penyet. Oke, ini jadi aku yang laper. Krucuk-krucuuk..
*ambil hp*
*buka Gojek*
WOYY! Oke, lanjut.
Tak disangka tak dinyana, perjalanan kami hari itu JAUHNYA MINTA AMPUN. Empat kali ganti kereta, mulai dari Shinkansen kece, kereta express, kereta lokal, sampe kereta-cuma-satu-gerbong-yang-dilangitlangitnya-nempel-boneka-ninja-seukuran-anak-kecil-sumpah-ngagetin-banget. Dan kami berhenti di stasiun terakhir, hujan, tengah malem, pilek semua. Bingung, yang bisa kami lakukan cuma ketawa ngakak nggak kelar-kelar karena beneran bingung musti kemana, plus itu udah kereta terakhir. :)) Oh, jangan lupa juga bahwa ada banyak boneka ninja nemplok di dinding stasiunnya. Jadi, Iga tuh kota kelahiran ninja dan ada museum ninja disini, which is the place we were gonna film tomorrow morning.
SIAPA YANG GAK KAGET COBAAAA?

Kereta satu gerbong doang T,T

APA LO? APA LO?

Stasiun terakhir entah di Jepang sebelah mana T,T

Naik taxi ke hotel, semua keujanan, makin pilek, dan langsung minum obat rame-rame. :( Sumpah sih, ini seru banget, gak bisa dilupain banget HAHAHA
Besoknya kami ke pinggir laut buat makan seafood khas Mie hasil tangkapan petani mutiara alias Ama-san. Ama-san itu ibu-ibu yang nyelam ke dasar laut buat ambil mutiara tanpaalat bantu nafas apapun. Gak lupa juga ke Mikimoto Pearl Island dong. Disana ada mutiara termahal di dunia, dengan harga yang bisa kebeli rumah. >,<
Kak, beliin dong, kak.


Lanjut, kami ke Wakayama buat shooting di Kumano-kodo. Ini tuh jalur ziarah bangsawan Heian gitu. Naik gunung, ada track pendakian di tengah hutannya. Tempatnya kalem dan tenaaaaang banget.  Di atas, kami ketemu sama pendeta Shinto, dan dia ngejelasin tentang konsep ketuhanan dan kemanusiaan a la Shinto.
Hello!

Don't get me wrong. I'm a thick Christian and I have no doubt about my faith. But I love to know about other belief's concept of god and humanity. That makes me rich in knowledge. :) Setelah ketemu pendeta dan pemimpin kuil Shinto ini, kami dibawa ke sebuah komplek kuil, dimana kuil Buddha dan kuil Shinto bener-bener berdampingan. Jadi, menurut pengetahuanku ya, orang Jepang itu gak bisa jawab kalo ditanya kepercayaannya apa. Shintoism and Buddhism is their way of life. Bukan sebatas pada unsur keagamaan. So, Japanese people go to both Shinto and Buddhist temples. And church, sometimes (mostly for wedding). Kuil Shinto (biasanya warna merah atau oranye) untuk berdoa untuk hal-hal dan orang-orang yang masih hidup (kelahiran, kelulusan, ujian, dll), sedangkan kuil Buddha untuk berdoa bagi arwah leluhur.  Gitu. Sekali lagi, ini sih sepengetahuan aku. Kalo ada yang bisa ngasih penjelasan lebih lanjut boleh banget langsung di kolom komen. Mind one rule, use polite language.
They live altogether in harmony.

Nah, komplek Nachi Grand Shrine ini masuk UNESCO World Heritage juga. Tempatnya cantik sekaliiiii.
Kalem. Adem.

Jangan lupa juga cobain eskrim warna item.
Ada yang bisa tebak ini rasa apa? Nanti dapet hadiah. 

Dua spot terakhir adalah Kishi Eki dan Universal Studios Japan (USJ). DI Kishi Eki, aku ketemu sama Tama the cat. Tama ini siapa? Kucing. Oke, so? Kucing yang jadi kepala stasiun. Eh? gimana gimana? Haha iyaa, Tama ini kucing, umurnya udah 15 tahunan, dan dia di-assign jadi Kepala Stasiun. Sah. Ada working hours nya, ada hari off nya, ada seragamnya, ada susunan pengurusnya. Kerjanya ngapain? Duduk ngeong-ngeong dari dalam lemari kaca. That's Japan. :) Sadly, Tama just passed away a few weeks ago, so Nitama, his successor is now on duty. Fortunately, I got a chance to meet them both. :3
Nitama is now the Station Headmaster!

Bye, Tama-san. :(

Terakhirrrr, main di USJ! Tujuan utamanya adalah The Wizarding World of Harry Potter!! Waktu kesana, HarPot baru dibuka 2 bulan, jadi ramenya itu kayak jumlah pengunjung pasar Tanah Abang menjelang lebaran ditambah jemaat gereja seluruh Indonesia di hari Natal. Tapi, karena kami adalah Kokoro No Tomo, tentunya kami didampingin sama orang media relations-nya USJ, dan kami masuk semua wahana TANPA ANTRE. MHUAHAHAHAHAHA!! Antrean 4 jam buat main wahana 4D nya, gak kami alami karena kami boleh langsung masuk yeayyyy! Melalui post ini, saya mau minta maaf sama kalian yang mungkin ada di sana waktu itu, dan menjadi salah satu dari sekian ribu orang yang menatap kami dengan tatapan mau makan orang. Maaf yaaa *throw the sweetest smile* :)
Yuk, yang iri mana suaranyaaaaa?? XD

Wajib minum.

Sempet nyobain wahana lain juga di USJ sih, kayak Jaws, Spiderman, dll. Malemnya, kami nonton light parade nya USJ yang meriah dan cantik banget. Aaaaaaa senaaaaaanggggg :) Gak lupa juga, beli wand-nya Dumbledore karena itu kece berat. FYI, di USJ itu ada banyak pernak-pernik HarPot, mulai dari jubah, syal, wand, sorting hat, permen-permenan, boneka Hedwig, kaos, jaket, key chain, dll. Oh, gak usah beli cookies atau biscuit, karena rasanya biasa aja tapi harganya mahal banget untuk ukuran snack gitu doang. Yaa terlepas dari kalengnya yang emang bagus buat koleksi yaa.

Di depan gerbang USJ, kami satu tim pelukan dan bikin video statement "IT'S A WRAP!!" karenaaa selesailah shooting trip Kokoro No Tomo Omotenashi. I felt happy and sad at the same time. Every It's-a-wrap moment always leaves me with crooked smile, and a hole in my heart. And your mindful comments about how happy you are watching KNT fill the hole with love, friendship, trust, and courage to do bigger and better things.
WRAP!! I love my team!

So, through this post, once again I wanna show you my deepest gratitude. :) Thanks for being faithful to KNT, and please enjoy our next season, dengan konsep dan tema baru, yang bakal tayang TANGGAL 6 SEPTEMBER 2015, setiap Hari Minggu pukul 14.30 WIB di METRO TV.


Aku janjiiiii pasti bakal cerita pengalaman seru shooting KNT Joshitabi di blog ini. Tapi setelah programnya tayang, ya. Aku gak mao spoiler soalnya hahaha cukup bocorin dikit-dikit di Instagram aku @amandazevannya. :))


See you guys!

xx,
Amanda Zevannya.

Tuesday, 17 March 2015

Hot Summer Days in Kumamoto


Setelah dari Hokkaido, kita pindah ke Kumamoto. Well, buat yang belom tau, Kumamoto itu letaknya ada di pulau Kyushu, di bagian Selatan Jepang.

Dengan kepala super berat, karena jump start banget bangun tidur dan ke airport nya (baca post sebelum ini), baru sampe di Kumamoto Airport, langsung terbang lagi ke Amakusa karena agenda pertama kita adalah ngeliat lumba-lumba yang terkenal banget ada di Amakusa.

Nah, ke Amakusa itu cuma bisa pake pesawat baling-baling yang kapasitas penumpangnya cuma 20 orang. HAHA. Terus ya, di Jepang itu lagi banyak taifun, makanya sebenernya ngeri-ngeri enak juga tuh naik pesawat kecil gitu ke pulau kecil pula. Untungnya, aku bukan orang yang takut terbang. So, I enjoyed it very much. Di tengah perjalanan yang gak sampe satu jam itu, si Amo tetep aja menyempatkan diri buat jadi sukebe, ngegodain pramugari cici-cici Jepang lucu yang cuma satu orang doang itu. Kocaknya, si cici ini juga seneng-seneng wae digombalin ga berenti-berenti. Dasar Amo! :))

Sampe Amakusa, astaganagadragon, panasnyaaaaaaaa udah kayak mataharinya lagi kumpul pesta tahun baru. Asli deh, sampe perih di muka. Kepala udah pusing, makin pening karena teriknya sinar matahari. Ditambah lagi, kita mau naik boat ke TENGAH LAUT, buat liat lumba-lumba. FYI, aku punya semacam phobia sama laut. NGGAK SUKA BANGET pokoknya kalo musti berurusan sama laut, ombak, dan kawan-kawannya. BIG NO. Tapi ya apa mau dikata, demi profesionalisme yekkan. Sepanjang perjalanan di atas boat aku cuma bisa nunduk, diem, nahan keringet dingin, sampe akhirnya, salah satu dari kita  teriak, "Tuh lumba-lumbanya!!!"

Aduh beneran mereka lucu bangettttt! Loncat-loncatan rame-rame, ngitern boat kita, tebar pesona banget deh pokoknya. Gemessss. Aku yang tadinya sama sekali gak berani liat ke air, ini ngumpulin keberanian buat nengok, dan kebayar banget semuanya begitu liat lumba-lumba kayak menari-nari disekitar boat kita. Kejar-kejaran, loncat-loncat, bunyi-bunyi kayak lagi nyanyi. AAAAAKKK!! Tega banget sih, kalo sampe ada yang berburu lumba-lumba. Apalagi, nggak sedikit pemburu yang salah tangkep. Niatnya tangkep lumba-lumba, eh ini malah nangkep porpoise. Bentuknya memang mirip banget, tapi porpoise itu hewan langka, guys. :(

Aku ngambil handphone, dan seneng banget begitu dapet foto ini. :')

Cuma pake iPhone, modal nekat ngelawan phobia sama laut. Nggak sia-sia :')


Dari situ, kita berniat mau shooting time-lapse sunset dari atas tebing di Amakusa. Udah ditungguin hampir satu jam, eh... Langitnya berawan. Gak keliatan juga sunsetnya. Hahahaha.. Malemnya kita nginep di salah satu ryokan terbaik disini. Lucky me, aku dapet kamar VIP, yang punya onsen pribadi didalem kamarnya. Kkkyyaaawwww XD

Private Onsen inside my room. MEWAH! XD


Semua kru makan malem dengan pake Yukata, makan malem mewah ala Jepang dengan makanan seabrek-abrek, dan malemnya dihabiskan dengan minum sake rame-rame, sama guide Kumamoto, beberapa orang hotel, dan beberapa warga Amakusa. Eits, no, aku cuma icip seteguk kooook B) Yup yup, aku bukan peminum alkohol. Aku doyannya minum susu. x)

Yukata gang!


Besoknya kita balik ke Kumamoto City, buat shooting di Kumamoto Castle lagi. Satu hal yang paling aku seneng dari shooting di Kumamoto Castle adalaaaaaaah.... Ada aktor Samurai ganteng. HAHAHAHA.. Udah ngegebet dia dari sejak shooting season 2. >,< Terus di dalam lingkungan castle, aku iseng aja minta selfie rame-rame sama semua tim aktor Samurai pake tongsis. Kece gak tuh, Samurai kenal selfie pake tongsis. Amanda yang ajarin! :))

Ngajarin om Samurai jadi anak gaul kekinian. Bisa tebak mana yang ganteng?

SAMFIE! Samurai Selfie! Kalo ini, yang mana hayoooo??

Yak, betul! Yang ini bahahahahahahaa..
KKYYAAAAAWWW >,<
Btw, ternyata dia ini emang favorit pengunjung. Orang-orang maunya foto sama dia terus.


Terus mampir dulu di sebuah peternakan sapi. Peternakan sapi ini ngejual daging sapi halal loh. Udah dapet sertifikat halal gitu deh dari Malaysia. Will you believe me if I say that the cows here get a VIP service? Yep, mereka di pijitin, air minumnya air mineral, makanannya diimpor dari Amerika Serikat, terus pake kipas angin segala. Nggak heran kalo sapi disini badannya astaga gede banget! Bahkan ada yang lebih tinggi dari aku. Berasa main Harvest Moon deh waktu di sini. Awalnya aku takut banget mau ngelus-ngelus sapi, tapi kok kayanya malah si sapi nya yang nyosor duluan ke aku. :))
Yaudah aku nekat coba ngelus muka nya si sapi, eh dia kesenengan. Terus malah mau ngejilat tangan dan muka ku gituuuuu, kayak anjing. Aduh gemes parah! Dan kocaknya, masa ada sapi yang ngiriiii sama temennya. Dia ngedeorong temennya, mendengus, terus ngasih muka nya ke aku. AAAAAAA :') Jadi nggak tega makan daging sapi :( Tapi habis itu dibawa ke meat shop, dan dijamu dengan Shabu-shabu, pake premium beef milik peternakan itu. PARAH PARAH DAGINGNYA ENAK BANGET. Marble nya cantiiiikk banget kayak motif kain, dan dagingnya lembut, kayak langsung meleleh di mulut. Maaf ya, sapi. :(

Popuri berambut hitam. Iyain aja.


Terus shooting panas-panasan banget di tempat bikin Kiji Uma, terus pindah lokasi ke Yamaga City. Di Yamaga, aku didandanin ala Yamaga Toro Onna. Panas-panas, pake Yukata, terus pake lentera diatas kepala. Kalo nggak inget lagi shooting sih rasanya pengen buka baju, nyemplung di kolam sampe malem, makan eskrim, nyalain AC, terus bobo. >,< Tapi seneng liat hasilnya karena jadi cantiiiikkkk banget. :') Jadi, kostum kayak gini dipake kalo pas ada Yamaga Toro Festival. Festival ini tuh ceritanya, zaman dulu ketika kaisar mau masuk ke kota ini, gelap, belom ada penerangan. Jadilah cewek-cewek di kota Yamaga pake lentera di atas kepalanya terus nari buat nyambut sang Kaisar dan memberi penerangan buat jalannya.

<3


Setelah dari sini kita balik ke hotel, dan dijamu makan malam sama local government Kumamoto. Makan mewaaaaah! Yuhuuuuu.. Ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa, dan mereka semua seru banget orangnyaaaa. Di situ aku dikasih tau bahwa ternyata tempat kita shooting Yamaga Toro adalah lokasi shooting Rurouni Kenshin!! AAAAAAAAAAAAAKKK MANA SATOH TAKERU NYAAAAAAA.. *peluk* Kenapa itu si Satoh Takeru cakep amat, yak?? Gara-gara nonton Kenshin, aku jadi nontonin J-drama nya Take-chan tau gak sih. HAHAHA. #teamTakerugariskeras #shameless #bodoamat #Takeruterlalucakep #iniapasih #kebanyakanhashtag #okeudahanyuk

Mukanya pada gosong semua, abis panas-panasan di Kumamoto :))


Besoknya kita pulang kembali ke Tokyo, nginep semalem untuk balik ke Jakarta. Huhuhu.. I fall in love with Japan too deep. Kalo udah lagi shooting di Jepang, rasanya nggak mau pulang. But my love for my country is deeper, apalagi for my own bed dan pillow. #salahfokus
Sebelum pulang aja tetep ada kejadian seru. Beberapa bagian Jepang lagi dilanda taifun, ya namanya juga summer kan. Nah siang itu, beberapa penerbangan dari dan ke Kumamoto delayed dan cancelled due to the bad weather. Kita pikir penerbangan kita juga cancelled. Eh ternyata nggak dong. Kita tetep terbang kembali ke Tokyo, dan bener aja. Kita ngga bisa landing on schedule di Tokyo, karena cuaca nggak bagus. Hampir sejam pesawat muter-muter aja di udara sampe akhirnya diizinkan untuk landing, dan dari kamera di monitor pesawat, kita bisa liat jelas, pesawat kita ngelawan hujan dan badai :)) kocakkk kocakkkk. Deg-degan banget ituuu aaa.. Puji Tuhan akhirnya landing dengan selamat tentram sentosa. Besoknya pulang ke Jakarta lagiii.

So, begitulah cerita panas-panasan di Kumamoto. Panas, seru, dan yang jelas kita ditemenin sama seorang sutradara Jepang yang orangnya baiiiikkkkkk banget banget dan seru banget, namanya Koyama-san. Terharu banget pas dia melepas kita pulang di Kumamoto Airport, mukanya murung dan terus-terusan minta supaya kita tetep keep in touch sama beliau. :) Oh, saking panas nya di Kumamoto pas itu, Koyama-san lengannya sampe belang bangettt.. Bener-bener merah-putih! Dan beliau bilang kulitnya terasa perih. Etapi besoknya ketemu beliau lagi, kulitnya udah balik, udah nggak ketara belang. #KZL #SIRIK

Koyama-san is the one wearing glasses. :)


Till I see you again, Kumamoto. Bring me another cool experiences, pretty please?

Xx,
Amanda Zevannya.

Tuesday, 6 January 2015

You're Unforgettable, Hokkaido!

Nama: Amanda Zevannya
Hobi: Lupa update blog

HAHAHA maaf yaaahh! Aku janji dari November yaaaah mau cerita tentang Hokkaido, Kumamoto, dan Central Japan, tapi kelupaan ihihihi :)) jadi ceritanya aku ga pernah buka blog selama 2 bulan belakangan karena..... patah hati. #eaaa

Bukan. Bukan patah hati urusan percintaan. Emangnya kamu? Bweeeee :p
*ngeselin*
*langsung ga ada yang mau baca blog*
*minta maap*
#mure

Hokeh, soo the crew and I flew from Chubu Airport to Shin Chitose Airport, Hokkaido. Belom apa-apa aja udah seru. Jadi, dari hotel di Nagoya ke Chubu Airport itu musti naik kereta. Berhubung flight kita pagi jam 8, kita naik kereta jam 5.10. Produser kita udah heboh, pokoknya jam 4.30 musti udah di stasiun! Jadilah pagi itu, dengan mata bengkak, kepala puyeng, dingin habis hujan, kita geret-geret koper ke stasiun. 4.25 sampe stasiun, only to find out that STASIUNNYA BELOM BUKA. Kata oba-san tukang sapu stasiun, stasiunnya baru buka jam 5.00. Pengen ngunyah petasan di tengah jalan gak sih rasanya. T,T

Two Nagoya sleepyheads


The flight was very nice, since the typhoon was miraculously moving to the Japan Sea, well you can read my two previous post to see the whole story, and we arrived at Hokkaido well. Safe and sound. Yeish!
Etapi jangan syediiih, sampe airport langsung shooting. Hap! Jadi di episode 5 ini, aku ditemenin sama seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Hokkaido. Namanya Doddy. Spot pertama shooting adalah Waku Waku Skypark. Buat anak 90-an kayak aku, pasti bahagia banget banget kesini. Doraemon!! Coba ngaku, siapa yang tiap hari minggu jam 8 pagi udah standby duduk manis di depan TV nongkrongin RCTI buat nonton Doraemon? Siapa yang selalu berkhayal betapa enaknya punya Doraemon? Siapa yang langsung mendadak nyariin dimana yang jualan dorayaki, terus berasa kece berat begitu udah nyobain dorayaki? HAHA!

Aku ingin begini, aku ingin begitu.. Aku ingin kamu! #eh


Iyaaa, jadi disini kayak museum Doraemon gitu. Aduh mau nangis beneran liatnya. Terus, terakhirnya aku nyobain main UFO Catcher. Itu loh, mesin yang kita gerakin lengan penjepitnya buat ambil boneka. Yang konon katanya, dapetin boneka disitu adalah mustahil adanya. Etapi di Jepang tuh UFO Catcher nya beneran semua kok. Gak sesusah di Indonesia. Bahkan, kadang petugasnya bantuin taroh bonekanya di posisi yang gampang diambil. And for the first time in my life, GUE BERHASIL DAPET BONEKA DI UFO CATCHER! Trust me, aku tuh payah banget main ginian. Seumur-umur ngga pernah bsia dapet apapun. Ini pertama kalinya, dan langsung dapet boneka Doraemon yang lagi megang dorayaki. Lucky, huh?

HISTORY!!


Setelah shooting disini, kita cabut ke Tomita Farm. Apa itu Tomita Farm? Jadi, ini adalah sebuah taman di Hokkaido entah sebelah mana, yang kalo lagi summer cantiknya minta ampun. Shizuka kalah, deh, cantiknya. Begitu masuk, ada hamparan bunga merah, kuning, oranye, ungu, hijau. Aduh :">

Tsakeup, yes?
Photo by Deska Binarso


Tapi yang terkenal disini tuh Lavender nya. Bukan cuma jadi kebun Lavender. Don't call her Japan kalo gak bisa bikin yang aneh-aneh. Kayaknya udah ngalir di 'darah'nya, Jepang tuh hobi bikin sesuatu yang bikin orang mengernyitkan dahi. Yes, they make Lavender Ice Cream. Rasanya kayak apa? Kayak makan parfum. Rasanya sih lucu ya, hampir mirip eskrim vanilla biasa. Tapi wanginya itu, yang gak bisa ketemu dimana-mana lagi. Bukan cuma eskrim, ada juga pudding lavender, dan kue sus lavender. :)) Gue rasa abis makan ini gue bebas dari nyamuk seumur hidup.

Seneng amat, neng?


Terus disini seru, jadi ceritanya kita mau shooting pake helicam, karena taman ini cantk banget kalo dari atas. Eh, gataunya, helicam kita baling-balingnya error satu, dari empat. Padahal gak kenapa-kenapa. Hampir sejam diutak-atik baru bener, sampe eskrim ku udah pada leleh kemana-mana. LOL.

Dari sini, kita pindah ke Hokkaido-yang-makin-entah-sebelah-mana, makan di tengah hutan (tapi serius makanannya enak, terus belakangan kita bantuin oba-san penjualnya cuci piring), terus bermalam di tengah hutan Hokkaido. Pernah nonton film horor yang ceritanya sekelompok anak muda pergi camping terus mobilnya mogok, numpang nginep di rumah orang terus gataunya pemilik rumahnya adalah pembunuh berantai, gak? Nah, suasana nya persis kayak gitu. Mamaaaa aku mau pulang! >,< It seemed like it was the only house, or, the only inn, there. In the middle of Hokkaido woods. Jalanannya gelap, lap, lap. Pemilik penginapan itu juga masih tinggal di rumah itu. Kamar mandinya ramean, dan selain kita, cuma ada pasangan dari RRC lagi honeymoon (kayaknya). What on earth came to their mind cobaaaaa mau honeymoon di tengah hutan begitu -___-' Jujur aja, aku ogah banget mandi sendiri. HAHA! Dan resenya, we the crew saling nakut-nakutin satu sama lain. Sampe yang cowok-cowok pun ikut parno sendiri sama jokes mereka. No internet connection, no WiFi, no active cellphones. Mari pasrahkan hidup kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Thank God, keparnoan itu cuma karena aku kebanyakan baca Detective Conan. We were safe and sound til the morning came, ate breakfast nicely, dan ternyata pemilik penginapannya ramah kok. :))

Menurut nganaaaaa?!


Then we went to Shikisai no Oka (the place where I rode a buggy car recklessly and made my cameraman screamed like a girl, LOL, sorry Deska!), Chiyoda Farm (where I fed a calf, and arbritarily named him Omar) and went straight to Higashikawa to stay there for 4 nights. Ternyata di Higashikawa, penginapannya gak kalah seru. Kita nginep di rumah asli Jepang, yang begtiu masuk, langsung ada perapian, terus ruangannya gede kosong blas ngga ada apa-apa beralaskan tatami, dan bisa dibagi empat buat jadi kamar tidur. Tidurnya pake futon yang disimpennya persis yang kayak di kamar Doraemon. Di samping rumah ada kolam kosong, dibelakang langsung hutan bukit perkemahan, terus kamar mandinya nyempil di bagian belakang rumah. Well, another thrilling nights to come, baby! Again, gak ada WiFi. Kalo mau internetan, musti jalan sekitar 100 meter ke kantor pemasaran camping site. Bhaaayyy~ Asli deh, ini aku kebanyakan baca Conan, makanya mikirnya aneh-aneh melulu hahaha soalnya ya gak ada apa apa kok disana. Semuanya aman-aman aja. Kita juga seru-seruan banget disana. :)) Tapi, baru di hari terakhir aku baru baca papan tulisan di depan rumah, yang menyatakan bahwa ruman itu adalah peninggalan budaya Jepang, sejak tahun1921. Mamam!

Di Hokkaido, kita punya ditemenin sama orang-orang Jepang yang kece berat, yang satu namanya Akira. Very fluent in English (I swear, hampir gak pernah ketemu orang Jepang yang bahasa Inggris dan pronunciation nya sebagus dia), yet has a very serious face and gesture. Ternyata eh ternyata, dia pernah kuliah di London, dan pernah tinggal di beberapa negara Eropa. Terus pernah produserin film pendek, yang dapet penghargaan di Sundance Film Festival. Pantesan! Yang satu lagi namanya Inoue-san. Orangnya baiiiikk banget! Di suatu malam dimana kita hopeless gak bisa internetan, dia nge-share koneksi internet di iPhone-nya buat kita pake rame-rame. WiFi gratis asik! :))

Di Higashikawa, kita disambut hangat banget sama walikota dan warganya. Duh, terharu, deh. Yang paling bikin terharunya, sama pak Walikota kita bertujuh dikasih sertifikat dan kartu Special Citizenship of Higashikawa. Clink! Resmi jadi warga Higashikawa. Jadi, kita boleh kesana kapan aja, dapet hotel dan belanja diskon! Yeaaaaaaaaayy! XD This is one proof of their omotenashi. Kota ini penduduknya cuma tujuh ribu orang, tapi biarpun kecil, jadi salah satu destinasi favorit orang bule. Kerennya, tingkat kriminalitas disini nol. Kece banget, yah? Ah, kangen!

Higashikawa citizens! Aye!


Mayoritas penduduk disini adalah petani. Kita, tanpa direncanain, diajak mampir sama guide kita, ke sebuah rumah, pemiliknya adalah sepasang kakek-nenek, yang kerjaannya sekarang adalah berkebun dan punya kebun buah dan bunga sendiri di halaman belakangnya. Mereka ramaaah banget, dan waktu kita dateng, si nenek lagi panen raspberry. Aku disuruh cobain. Wah, raspberry nya enak banget, gede-gede pula! Si nenek juga hobi blogging, she said she gonna tell about us in her blog, and I promise to do so. :)

Tanpa kelian ketahui, setelah foto aku minta cranberry sebakul. B)

Oh, kalo biasanya liat orang bawa hewan peliharaan jalan-jalan, yaitu anjing atau kucing, di sini kita bisa liat orang bawa jalan-jalan kura-kura. Nggak ngerti lagi gue.

Umurnya 15 tahun. Kura-kura nya, bukan kakeknya.

Terus, kita juga mengunjungi galeri kerajinan tangan milik seorang kakek seniman kayu. Jadi, dia bikin handcraft dari kulit kayu, dibikin jadi lukisan. Aduh bagus banget deh. Sayang, aku lupa foto. Aku diajarin bikin, dan ternyata susah banget, bok! He lives with his lovely wife, and his artwork are sent to big cities to sell. It was so heartwarming to see a couple of elder people, masih sama-sama dan kerja bareng sampe tua. Bikin karya seni, tinggal di gunung yang sejuk dan pemandangannya indah, and both are very friendly. Oji-san, Oba-san, ogenki da ne! :')

<3


Kita sempet mampir ke Asahidake, yang walaupun udah musim panas tapi puncaknya tetep bersalju. Niatnya mau ngedaki ke atas, eh baru jalan dikit udah kedinginan, udah ngos-ngosan. Batal! Yang penting udah sempet shooting disana. Baliknya, mampir ke mata air yang jadi pasokan air untuk seluruh warga Higashikawa, gratis. Suwer, airnya seger banget. Bisa langsung diminum. Sok tau main-main di mata air, gak sadar didepan muka ada ulet gede. Aku langsung jeritttttt nyaris kepeleset pula. T,T Disini kita diajak makan nyobain hasil pertaniannya, kita dijamu makan nasi kare, yang isinya full sayuran! dari appetizer sampe dessert, semuanya sayuran. Bahkan ada timun segar, makannya pake garem doang.

AAAAAAAKKKK.. *guling-guling di awan*


Habis dari sini, kita menempuh perjalanan 3 jam ke pelabuhan Noboribetsu, tapi mampir dulu nyobain jus tomat langsung dari kebunnya. Tomatnya segede-gede apel fuji, bok! Dan garing pula. Aduh enak banget pokoknya. Di Noboribetsu, shooting bantuin para nelayan mindahin hasil tangakapan mereka dari kapal ke gudang buat ditimbang. Emang dasar anak kepo, ternyata box nya berat banget argh argh, dan ada kepiting masih hidup. Zzz.. Kantong belanjaan kalah beratnya deh. Yaiyalah. Terus sok mancing di pinggir laut yang ternyata gak dapet apa-apa (mancingnya beneran di pantai, ya mau dapet apaan?!), makan kerang hoki, dan liat pabrik es batu. Badan tuh rasanya udah lengkeeeet banget, bau amis, pengen mandiii gosok badan pake amplas. Huh hah.

Ada mbak-mbak nelayan centil pake pink.


Besoknya, kembali ke Sapporo! AAAAAA KOTAAAAAAA.. *guling-gulingan di jalanan* *manjat gedung*
Disini, kita cuma shooting di Sapporo Drug Store, terus ke Otaru Aquarium. Selesai shooting cepet, dan besok udah terbang ke Kumamoto, kita ngopi-ngopi dulu di Otaru. I could stay lost in that moment forever, beneran deh. Suasana Otaru tuh enaaaak banget. Bergaya Eropa, tapi tetep terasa Jepang nya. Sepanjang jalan banyak kafe, banyak toko souvenir, toko barang seni, dan kios cemilan khas Jepang. Duh, pengen lagi!!

We bought some gifts for Akira and our amazing driver, opa Jack. Nggak, nama aslinya bukan Jack, Tapi karena dia biasa bawa foreigner, he calls himself Jack, supaya gampang diinget. Opa Jack ini kece banget nyetirnya. Naik turun gunung, kesana kemari, hujan panas, nyetirnya tetep kalem dan kita sampe tujuan tepat waktu. Kangen banget, ih!

Yang ubanan itu Opa Jack, yang paling kanan Akira. :D


Bermalam di deket Shin Chitose Airport, kita sempetin diri makan Jengis Khan dulu. Grilled lamb! Berhubung aku ngga doyan domba atau kambing dan sebangsanya, aku cuma pesen salad. Tapi domba di Hokkaido itu terkenal enak, jadi harus nyobain kalo kesana yah! Restoran Jengis Khan ada banyak kok. Tanya aja sama orang lokal, pasti dikasih tau.

Besoknya, kita harus kumpul di lobby hotel jam 6 pagi, schedule bis ke airport jam 6.10, cuz we need to catch a flight at 8AM. Aku sih selalu udah packing malemnya, supaya paginya ngga terburu-buru dan ngga ada yang ketinggalan. Alarm udah di-set, dan tidurlah aku. Paginya, kak Icha (my room mate and our producer) tiba-tiba dengan hebohnya bangunin aku,
I: Nda, kita kumpul jam 6 yah?
A: *ngumpuln nyawa* Dimana saya?? Siapa kamu?? Aku Sailormoon! Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!

Nggak deh, boong.
*diamuk massa*

I: Nda, kita kumpul jam 6 yah?
A: *ngumpulin nyawa* *1/2500 sadar* Hah? Iya, kak.
I: OMAYGAD NDA KITA TELAT BANGUN!!!!!!!
A: *cek hp* *5:57* *loncat dari ranjang*

Asli. Nggak mandi. Modal sikat gigi ala kadarnya doang. Langsung ganti baju dan geret koper.
...

Ngaku aja nih, awal episode Kumamoto yang kalian tonton, host nya belom mandi. Kesiangan bangun. :(

Semuanya seru, semuanya menyengkan! I reckon them all as a very beautiful memory. I'd love to come back to you, no hesitation. Nice weather, friendly people (ehm, cewek Hokkaido terkenal paling cantik se-Jepang!), good food, lovely nature. Hokkaido, you're too unforgettable!

Xx,
Amanda Zevannya.

Friday, 31 October 2014

Gratitude!

Barusan aja KNT season 3 #Omotenashi selesai episode tayangnya. Setelah 11 minggu nemenin kalian semua, dan proses pre produksi sejak bulan Mei, gue ngerasa seneng banget bahwa ternyata tayangan ini ngasih manfaat yang positif buat kalian. Kerja keras kami ngga sia-sia. :')

Lewat post ini, gue pribadi, Amanda Zevannya, mau ngucapin terima kasih buat semua sahabat KNT, terutama yang udah ngikutin KNT dari season 1 (Februari 2013), season 2 (Agustus 2013), dan kini season 3 (Agustus 2014). Bangga banget bisa nemenin kalian, bisa ngasih cerita baru tentang Jepang yang mungkin baru kalian tau, ngasih inspirasi tentang gaya hidup masyarakat Jepang yang bisa kita aplikasikan di Indonesia untuk membawa dampak positif bagi Indonesia juga. Makasih telah menjadi bagian dari keluarga besar KNT.

Dan tentunya, gue mau ngucapin makasih banget banget buat seluruh tim KNT.
Ko Andy Pangestu, Ko David John, Jaya, Kak Icha, Mas Tyas, Angga, Deska, Amo, Adri, Ci Sanny, Epica, dan Ipul. Terima kasih buat kerjasama nya, buat kekeluargaannya, buat kebersamaannya, buat semua tawa dan susah senengnya, buat pengertiannya, buat kesempatannya, buat pengalamannya. You guys are definitely the best team I've ever worked with, and you got a special place in my universe. Never before I thought that I would experience such a beautiful times with amazing people like each of you. Terima kasih udah percayain aku jadi emaknya KNT selama 3 season, 27 episode, ini. Terima kasih.

Jujur, baru pernah ada acara atau kerjaan, yang bikin gue nangis di perjalanan pulang. Yes, gue ngaku, gue nangis di pesawat dalam perjalanan dari Osaka ke Jakarta. Di tengah bisingnya suara mesin jet pesawat yang segera lepas landas, gue cuma bisa tertunduk, dan ngerasain setetes demi setetes air hangat mengalir di pipi tembem gue. Yes, while the other passengers were busy praying for their safety, reading newspaper, or trying to sleep, I cried. Di pesawat pula gue baca kutipan dari Coldplay, "...if the emotion punches through the tracks and move you, then the artist has achieved what they set to do." Ini yang gue rasain. The emotion punches me too hard. Tapi di satu sisi gue yakin bahwa at least KNT udah berhasil menembus sisi hati paling dalam dari seorang anak manusia: GUE.

Buat gue, KNT bukan cuma sekedar jalan-jalan ke Jepang, nikmatin kota-kota di Jepang, ke tempat baru yang jarang banget jadi destinasi wisata turis Indonesia, atau ketemu sama orang Jepang. Kalo jalan-jalan ke Jepang lagi sih semua orang  pasti bisa. Gue juga bisa tinggal order tiket dan terbang kesana. Tapi, KNT is more than meets the eye.

KNT udah ngasih gue pengalaman berharga yang ga bisa dituker dengan apapun juga. KNT memegang peranan penting dalam membentuk gue jadi gue yang sekarang. Gue belajar mandiri, belajar urus diri sendiri, gak tergantung sama orang lain (FYI, gue anak tunggal, so yeaa bisa kebayang kan...), belajar tepat waktu, belajar tentang persistence, saling percaya, kerja tim, saling membantu, jadi cewek yang tangguh, profesional, beradaptasi, bersosialisasi dengan berbagai macem orang, dan juga ngajarin tentang time management.
Kondisi shooting yang gak selalu enak bener-bener ngajarin gue buat harus bisa kerja dalam kondisi apapun. Kena hujan, salju, badai, panas terik, subuh, tengah malem, di hutan, di pelabuhan, di peternakan, di kota besar, kelaperan, kekenyangan, kondisi sakit, ngantuk, capek berat, ketemu orang Jepang mulai dari yang asik, yang kaku, yang freak, yang baiiikkkk banget, ketemu orang bule, ketemu walikota, dubes, nelayan, pengusaha, mahasiswa, semuanya udah pernah kita jalanin SAMA-SAMA.

Kebersamaannya gak bisa dibayar dengan apapun. Kami semua ada dalam kondisi yang sama. Kedinginan, kepanasan, gak dapet wifi, gak bisa kontek keluarga, temen, pacar, atau urus kerjaan lain di Indonesia. Sama-sama ada di tempat yang asing, gak bisa komunikasi lancar sama orang setempat pula (kecuali Jaya dan Icha), sama-sama ngegebet orang Jepang yang kece sekedar untuk seseruan dan ketawa-ketawaan, saling iseng, saling taruhan, saling traktir, saling curhat, saling debat mulai dari hal gak penting sampe hal yang prinsipil. Sama-sama tidur di tengah hutan gelap dan mengkhayal ada pembunuh berantai. Beli jajanan juga buat rame-rame, saling sharing (keju strings, Calbee, ONIGIRI!!, mi garing yang ternyata pake babi HAHAHAHA, milk tea, mochi coklat, dan lain-laiiinnnn).

Bukan hanya proses shooting, tapi juga proses post produksi yang seru banget. Take VO yang scriptnya panjang banget kayak jalanan dari Anyer-Panarukan, juga Jaya, Amo, Angga, yang ngedit tiap episodenya sampe gak tidur dikejar deadline, dan juga semua pihak yang udah kerjasama bareng untuk bikin KNT season 3 #omotenashi jadi lebih kece dari season-season sebelumnya.

Last but not least, I also would like to apologise for every mistake I've done, baik selama proses shooting (this roller-coastery girl, yea.), selama penayangan, selama proses pre dan post production, dan hal-hal lain yang kurang memuaskan para pemirsa semua. Makasih buat semua kritik, masukan, dan pujiannya. This will make me a better me, a better presenter, a better person.

And.. here are some answer from you, who have participated in my #LastKNT3 quiz. Thanks! I'm so overwhelmed with gratitude! <3

























Xx,
Amanda Zevannya.

Nb. Masih utang tulisan tentang Hokkaido, Kumamoto, dan Central Japan. Segera! :)